Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Astronomi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Mei 2016

Lubanghitam Supermasif, Sang Pencipta Bintang-Bintang Di Galaksi

Lubanghitam Supermasif, Sang Pencipta Bintang-Bintang Di Galaksi

Lubanghitam supermasif adalah lubanghitam yang massanya sangat besar. Letaknya ada di pusat galaksi-galaksi. Sejarah penemuannya cukup unik. Berikut ini adalah twit dadctentang lubanghitam supermasif (LHSM).
sejarah penemuan #lubanghitam #supermasif diawali dari penemuan quasar: quasi stellar object, benda yg mirip bintang tp sangaaaaaaat jauh
tau kan kalo semua titik bintang di langit itu ada di galaksi bimasakti. & galaksi ga akan terlihat sbg titik #lubanghitam #supermasif
nah quasar itu terlihat sbg titik tapi diketahui jaraknya jauh alias ada di luar galaksi bimasakti #lubanghitam #supermasif
Ilustrasi pancaran energi dari sebuah quasar. (Sumber: Wikipedia)
Ilustrasi pancaran energi dari sebuah quasar (Sumber: Wikipedia).
jd quasar itu pasti galaksi. tp knp bs terlihat sbg titik? krn sebenernya cahayanya terang sekali #lubanghitam #supermasif
cahaya seterang itu (ingat, jaraknya jaaaaaaaaauh sekali) awalnya diteorikan berasal dari bagian inti galaksi #lubanghitam #supermasif
di bag inti itu ada #lubanghitam #supermasif yg sedang menghisap materi di sekitarnya & membentuk piringan akresi
Ilustrasi piringan akresi dari sebuah lubanghitam supermasif (Sumber: wikipedia).
Ilustrasi piringan akresi dari sebuah lubanghitam supermasif (Sumber: wikipedia).
piringan akresi terbentuk akibat materi yg terhisap #lubanghitam #supermasif bergerak spiral, bukannya lurus langsung ke #lubanghitam
gesekan antar materi di piringan akresi tsb yg menimbulkn panas & memancarkn chy yg mengalahkan terangnya galaksi #lubanghitam #supermasif
dan materi tersebut akan bergerak dgn sgt cepat! pergerakan ini dpt diamati dengan metode spektroskopi #lubanghitam #supermasif
maka astronom pun mencoba mengamati spektrum quasar utk membuktikan keberadaan #lubanghitam #supermasif
sebagai pembanding, diamati jg galaksi andromeda yg bagian intinya terlihat pasif #lubanghitam #supermasif
oya, krn terangnya bag inti itu quasar jg digolongkan sbg objek agn, active galactic nuclei #lubanghitam #supermasif
ternyata pengamatan spektrum quasar ga memberi hsl memuaskan krn jaraknya terlalu jauh #lubanghitam #supermasif
apa yg diramalkan teramati di quasar dan ga ada di andromeda, ternyata malah muncul di andromeda! K E J U T A N! #lubanghitam #supermasif
Tetangga kita, Galaksi Andromeda (Sumber: WIkipedia).
Tetangga kita, Galaksi Andromeda (Sumber: WIkipedia).
artinya #lubanghitam #supermasif itu ada juga di andromeda. padahal bagian intinya ga memancarkan cahaya yg sgt terang
pengamatan pun dilakukan ke galaksi2 spiral lain, termasuk galaksi bimasakti. hasilnya? semuanya punya #lubanghitam #supermasif!
lama kelamaan, di pusat quasar jg ditemukan #lubanghitam #supermasif. jd l.h.s.m tdk selalu menghasilkan agn, ada jg masa tenangnya
sekali waktu #lubanghitam #supermasif akan menghasilkan piringan akresi & agn. satu saat semua akan didorong menjauh & galaksi jd tenang
selain itu, keberadaan #lubanghitam #supermasif di pusat galaksi mempengaruhi kecepatan revolusi bintang2 di galaksi itu
galaksi yg bintang di tepinya melaju dgn cepat ternyata memiliki #lubanghitam #supermasif yg massanya lebih besar
padahal jarak antara tepi galaksi ke #lubanghitam #supermasif sangat jauh, bisa puluhan ribu tahun cahaya. tp pengaruhnya terasa
dicurigai di masa lalu ada hubungan antara bintang2 di tepi galaksi dengan #lubanghitam #supermasif di inti galaksi.
galaksi awalnya berupa awan raksasa yang terdiri dari gas dan debu. di bagian pusatnya terbentuklah #lubanghitam #supermasif
#lubanghitam #supermasif tsb memicu awan di sekitarnya utk membentuk bintang2. jadi #lubanghitam bukanlah semata benda penghancur
pada satu saat, #lubanghitam #supermasif akan meniup awan sekitarnya menjauh. di sinilah hubungan antara bintang di tepian galaksi dgn l.h.s.m
semakin cepat bintang di tepian galaksi bergerak, semakin sulit #lubanghitam #supermasif di pusat mendorong awan/materi di sekitarnya
nah, supaya bisa mendorong, #lubanghitam #supermasif itu harus tumbuh lebih besar dulu. semakin cepat bintang, semakin besar massa l.h.s.m-nya
pada akhirnya #lubanghitam #supermasif yang sedang pasif bisa saja aktif lagi dan memakan materi yang mendekatinya, spt yg teramati di bimasakti
tp jgn khawatir, #lubanghitam #supermasif di pusat bimasakti tdk akan menghisap tata surya kita
berkat penelitian tentang #lubanghitam #supermasif ini, pemahaman kita thd pembentukan galaksi pun berubah
jika sebelumnya galaksi dikatakan bisa terbentuk tanpa keterlibatan #lubanghitam #supermasif, tp sekarang diket l.h.s.m adlh yg terpenting
tanpa #lubanghitam #supermasif, bumi dan kehidupan di dalamnya tidak akan terbentuk! untung ada #lubanghitam #supermasif 
Sumber : http://duniaastronomi.com/2013/07/kisah-lubang-hitam-supermasif/ 

Jumat, 14 November 2014

KEPLER-186F SEPUPUNYA BUMI

KEPLER-186F SEPUPUNYA BUMI


Perburuan planet layak huni di luar tata surya selama beberapa dekade ini akhirnya terjawab pada pekan lalu saat tim astronom mengumumkan penemuan Kepler-186 f. Planet baru itu diperkirakan amat mirip bumi dan layak huni Menggunakan teleskop antariksa Kepler milik Badan Antariksa Amerika Serikat NASA tim ilmuwan menguak keberadaan sebuah planet yang mengorbit pada zona layak huni Kepler-186- f nama planet itu diperkirakan memiliki kondisi yang memungkinkan air menggenang pada permukaannya,syarat utama planet layak huni.
"Pertemuan Kepler-186f merupakan langkah signifikan dalam upaya menemukan dunia seperti bumi,"kata Direktur Divisi Astrofisika NASA Paul Hertz di kantornya di Washington,DC,Amerika Serikat.
Kepler 186f mengingatkan para astronom pada bumi.berukuran 1,1 kali atau 10 persen lebih besar dari bumi, Kepler-186f menjadi planet ekstrasolar--planet diluar tata surya--pertama yang paling mirip bumi dan menempati zona layak huni. Para astronom pun menjulukinya sepupu bumi.
Pemimpin tim astronom yang juga ilmuwan dari SETI Institute di NASA Ames Research Center,Elisa Quintana, mengatakan Kepler-186f mengorbit Kepler-186f,bintang katai merah tipe M yang sinarnya lebih redup dari pada matahari. Keduanya berjarak 490 tahun cahaya. Hanya perlu 130 hari bagi planet ini untuk mengitari bintangnya. Waktu revolusi Kepler-186 nyaris sepertiga lebih singkat dari bumi mengitari matahari.
"Dengan jarak seperti itu,suhu permukaan Kepler-186f akan berada di tas titik beku dan di bawah titik didih," kata Quintana seperti dikutip Space
Dengan suhu atmosfer seperti itu,Quintana mengimbuhkan, air diperkirakan tetap berwujud cair. Hal ini penting untuk mendukung kehidupan seperti halnya di bumi.
Massa dan komposisi Kepler-186f masih misterius. Meski begitu, berdasarkan penelitian sebelumnya, permukaan planet itu diperkirakan cenderung berbatu.Kepler-186f bukanlah planet tunggal.Sebagai katai merah,Kepler 186 memiliki ukuran dan massa separuh dari matahari. Katai merah adalah kelas bintang yang membentuk 70 persen dari bintang-bintang di galaksi Bima Sakti.
Sejauh ini ada 20 planet ekstra-solar yang masuk kategori "Zona layak huni". Zona layak huni,dalam astronomi disebut "zona Goldilocks", adalah daerah di sekeliling bintang yang suhunya tepat bagi terbentuknya air di permukaan planet. Untuk menentukan zona ini, para ilmuwan harus terlebih dahulu mengukur total radiasi yang dipancarkan bintang. Mereka dapat menghitungya dengan mengetahui ukuran dan jenins bintang itu.
Penemuan Kepler-186f  adalah kemajuan paling pesat dalam upaya mencarian kehidupan di luar tata surya. Namun, jaraknya yang sejauh 500 tahun cahaya belum mungkin dijangkau.

Kepler 186f


Kepler 186f



Planet Alien Kepler-186f dan Ancaman Kepunahan Manusia

Oleh: Elin Yunita Kristanti, Rizki Gunawan
Ini gambaran Bumi pada 2154: sesak, padat, rusak, gersang, compang-camping. Debu melapisi permukaan segala hal termasuk dedaunan di pohon yang tak leluasa tumbuh di antara belantara beton kumuh yang menjulang tinggi. Polusi sedemikian parah mencekik jalan napas manusia yang hidup di dalamnya, penyakit pun merajalela. Gajah, gorila, dan jerapah tinggal cerita masa lalu. Punah.
Tak ada kelas menengah saat itu. Takdir manusia dipisahkan dua dunia: Bumi suram yang dikendalikan robot atau ‘surga’ berbentuk roda dengan simbol bintang di tengahnya.  Yang berkilau terang di langit malam, jaraknya sedikit lebih dekat dari Bulan.
Nirwana itu adalah satelit buatan manusia, hanya orang-orang kaya yang bisa tinggal di dalamnya dengan nyaman. Rumah-rumah besar, alam yang indah, pepohonan, udara bersih, robot-robot pelayan yang siap melaksanakan titah. Orang di dalamnya tak pernah sakit dan menua. Setiap penyakit dapat disembuhkan seketika.  
“Aku akan membawamu ke sana. Aku janji,” kata Max kecil, pada sahabatnya, Frey. Keduanya adalah penduduk Bumi, kaum proletar.  Kelak ikrar tersebut menuntut nyawa.  Kisah itu digambarkan dalam film Esylum yang dirilis pada 2013 lalu -- satu lagi ramalan suram Bumi.
Benarkah hal buruk akan menimpa planet kita di masa depan?  
Setidaknya itu yang diyakini astrofisikawan tenar, Stephen Hawking. Dalam sebuah wawancara dengan situs Big Think, ia mengatakan manusia dalam bahaya besar. Ancaman terhadap eksistensi manusia, seperti perang, penurunan sumber daya alam, dan overpopulasi berarti meningkatkan risiko hidup di Bumi berkali lipat.
“Sangat sulit untuk menghindar dari bencana dalam beberapa ratus tahun mendatang, apalagi dalam ribuan atau jutaan tahun ke depan,” kata Hawking. “Satu-satunya agar manusia bisa bertahan dalam jangka waktu lama adalah untuk tidak tergantung pada Bumi. Manusia harus pindah, menyebar di luar angkasa.”  
Namun, waspada! Dalam seri Discovery Channel, Hawking memperingatkan manusia untuk berhati-hati dalam melakukan kontak dengan bentuk kehidupan asing. Para alien itu mungkin tak ramah.
Kekhawatiran Hawking soal Bumi bukan tanpa dasar. Fakta menunjukkan, Berdasarkan penanggalan radiometrik meteorit, usia Bumi lebih dari 4,54 miliar tahun. Sudah tua. Sampai kapan ia layak dihuni?
Studi yang dilakukan University of East Anglia, Inggris, pada 2013 lalu memperkirakan, Bumi masih mampu menopang kehidupan setidaknya selama 1,75 miliar tahun mendatang. Tapi ada syaratnya, selama bencana dahsyat akibat nuklir, tubrukan asteroid raksasa, dan malapetaka lain tak terjadi.
Namun, bahkan tanpa skrenario kiamat sedramatis itu, kekuatan astronomi akan memaksa Bumi tak lagi bisa dihuni. Suatu masa antara 1,75 miliar hingga 3,25 tahun lagi, Bumi akan keluar dari zona layak huni (habitable) dalam Tata Surya ke ‘zona panas’.
Saat masuk ke zona panas, Bumi akan mendekat ke Matahari, membuat lautan kering kerontang. Dan tentu saja, kondisi kehidupan, termasuk manusia, tak bakal mampu bertahan.
Jika manusia terpaksa pindah, ke mana? Kalau tak mampu membuat koloni di orbit rendah Bumi seperti Esylum, Mars mungkin pilihan terbaik, meski misi rover yang dikirim, termasuk Curiosity belum menemukan tanda-tanda kehidupan di sana. Planet Merah masih terlalu tandus untuk dihuni manusia. Venus pun tak bisa ditinggali karena terletak terlalu dekat dengan Matahari dan terlalu panas.
Setidaknya ada tiga syarat utama sehingga sebuah planet bisa dibilang layak huni, yakni harus adanya sumber panas, air, dan kehidupan organik.  Selain Mars dan Venus, di tata surya kita, ada beberapa  kandidat lain yakni  satelit Yupiter -- Europa serta satelit Saturnus -- Enceladus dan Titan. Namun sejauh ini kepastian belum didapat.
Sejak Dr Alexander Wolszczan, astronom radio di Pennsylvania State University menemukan ‘bukti tak terbantahkan’ tentang sistem planet ekstrasolar atau eksoplanet pada 1994, para ilmuwan mulai mencari tanda-tanda kehidupan di luar tata surya. Mencari ’planet alien’.
Bumi 2.0
Pertengahan April 2014, sebuah pengumuman penting disampaikan para astronom. Ditemukan eksoplanet atau planet di luar tata surya seukuran Bumi yang berada di zona layak huni bintangnya! Namanya Kepler-186f.
Ia kali pertama diketahui keberadaannya oleh teleskop luar angkasa Kepler milik Badan Antariksa Amerika Serikat (NASA).  Kepler-186f  diketahui mengorbit bintang merah yang bersinar redup, yang jaraknya 490 tahun cahaya dari Bumi: Kepler-186.
Para ilmuwan menduga, Kepler-186f -- yang terluar dari 5 planet yang mengorbit bintang Kepler-186 dalam jarak 52,4 kilometer secara teoritis berada dalam zona habitasi bintang merah kerdil itu.
Sementara, orbit Bumi dari Matahari berjarak rata-rata 150 juta kilometer. Namun, Matahari lebih besar dan terang dari bintang Kepler-186. Itu mengapa zona layak huni Matahari lebih jauh.
Jari-jari Kepler-186f  diperkirakan sekitar 1,1 kali jari-jari Bumi. Itu berarti ukurannya sedikit lebih besar dari planet manusia. Mungkin berbatu seperti Bumi. Namun, para ilmuwan belum bisa memastikan, apa elemen yang membentuk atmosfer planet tersebut --  kunci yang dapat membantu menguak apakah planet ini bisa dihuni makhluk hidup.
Para astronom sejauh ini  telah mengkonfirmasi keberadaan hampir 1.000 planet di luar tata surya. Namun, sebagian besar eksoplanet terkonfirmasi sebagai planet gas raksasa seperti Jupiter tanpa permukaan padat, atmosfer beracun, dan terlalu panas atau terlalu dingin untuk zat cair dan apalagi kehidupan. Jadi Kepler-186f adalah temuan istimewa.
“Ini (Kepler-186f ) planet definitif pertama seukuran Bumi yang ditemukan di zona layak huni di sekitar bintang lain,” kata Elisa Quintana dari SETI Institute di NASA Ames Research Centre di Moffett Field, California, dan penulis utama penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Science.
Penting untuk mencari planet yang ukurannya serupa dengan Bumi. “Apa yang kita pelajari, dalam beberapa tahun terakhir, adalah ada transisi pasti yang terjadi sekitar 1,5 kali jari-jari bumi,” kata Quintana dalam sebuah pernyataan. “Jika sebuah planet memiliki jari-jari 1,5 sampai 2 kali jari-jari Bumi, ia menjadi cukup besar untuk mulai menumpuk hidrogen sangat tebal dan memiliki atmosfer helium -- sehingga menyerupai gumpalan gas raksasa.”
Kepler-186f sesuai dengan deskripsi dari sebuah planet berbatu dengan atmosfer jinak yang terletak dalam zona ramah atau Goldilocks  -- yang tidak terlalu panas atau terlalu dingin bagi kehidupan. “Yang paling mendekati Bumi 2.0,” kata para astronom.
Benarkah kita telah menemukan Bumi 2.0 alias Bumi kedua? Tunggu dulu!
“Berada di zona layak huni tidak berarti kita tahu planet ini memang layak huni,” kata Thomas Barclay, ilmuwan riset di Bay Area Environmental Research Institute, NASA. “Suhu di planet tersebut sangat tergantung pada jenis atmosfer yang dimilikinya.”
Menurutnya, terlalu prematur untuk menyebutnya mirip dengan Bumi. “Kepler-186f lebih mirip ‘sepupu Bumi’ daripada ‘kembaran Bumi’.”
Pencarian Bumi kedua di luar tata surya mungkin tak terkait tujuan menemukan koloni manusia, jaraknya terlalu jauh. Mustahil kita berpindah di sana dengan teknologi yang dimiliki saat ini.  Kepala Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional, Thomas Djamaluddin, berpendapat ada rasa ingin tahu besar manusia yang membutuhkan jawaban. "Itu dari segi keingintahuan ilmiah bahwa (apakah benar) Bumi bukan planet (satu-satunya) yang ada penghuninya. Keingintahuan mendorong para peneliti mencari planet lain yang dari segi temperatur mirip."
Sinyal Kepunahan Manusia?
Temuan  Kepler-186f di konstelasi Cygnus memang kabar mengembirakan. Tapi, sebaliknya, dianggap meningkatkan posibilitas kepunahan manusia dalam jangka pendek. Itu sesuai dengan konsep yang disebut  Great Filter.
Great Filter adalah argumen yang berusaha menyelesaikan Paradoks Fermi (Fermi Paradox) -- kontradiksi yang nyata antara tingginya kemungkinan adanya peradaban ekstraterrestrial dengan ketiadaan bukti atau kontak dengan mereka.
Padahal, ukuran dan umur alam semesta menunjukkan bahwa seharusnya ada banyak peradaban berteknologi maju di luar planet manusia. Namun, hipotesis ini tampaknya tidak konsisten dengan kurangnya bukti pengamatan untuk mendukungnya. Pernyataan mendasarnya adalah: di mana (alien) berada?
Fisikawan Enrico Fermi meyakini, adalah hal luar biasa mengapa tak pernah ada sinyal ekstraterresterial atau teknologi alien yang terdeteksi.
Maka ia berpikir, pastilah ada semacam penghalang yang mencegah munculnya kehidupan makhluk cerdas (semacam manusia), yang memiliki teknologi tinggi, dan berpeluang menjajah peradaban lain di angkasa. Kita bisa mengumpamakan penghalang itu sebagai 'Great Filter'.
Namun, apa sebenarnya yang jadi Great Filter alias hambatan itu telah menjadi perdebatan di kalangan ilmuwan 50 tahun lamanya. Ada yang menduga, itu karena terbatasnya jumlah planet mirip Bumi atau tidak adanya kemampuan mereplika molekul atau tak mampu melakukan lompatan dari sel prokariotik -- sel yang tidak memiliki selaput inti -- menjadi sel eukariotik yang lebih kompleks. Di Bumi proses itu makan waktu miliaran tahun.
Sementara, para pendukung hipotesis 'Rare Earth'  berpendapat bahwa evolusi kehidupan yang kompleks memerlukan kondisi sempurna. Seperti misalnya yang terjadi pada Bumi. Planet manusia berada di zona habitasi Matahari -- bintang yang cukup jauh dari pusat galaksi untuk menghindari radiasi yang merusak, atmosfer cukup tebal untuk membakar asteroid yang masuk Bumi, dan Bulan luar biasa besar yang menstabilkan kemiringan sumbu -- yang memberi kita musim yang berbeda.
Great Filter diyakini mencegah munculnya peradaban antar-bintang. Masalahnya kita tak tahu apakah itu masa lalu atau masa depan manusia.
Selama 200 ribu tahun, spesies manusia selamat dari malapetaka letusan supervolkano, tabrakan asteroid, dan pandemi penyakit. Namun, rekam jejak kita sebagai penyintas (survivor) bisa jadi terbatas hanya dalam beberapa dekade. Faktor pemicunya perang nuklir, misalnya. Atau sebab lain seperti bioteknologi yang berpotensi bencana. Sejumlah ilmuwan termasuk Stephen Hawking, Max Tegmark, Stuart Russell, dan Cambridge Centre mengkhawatirkan eksistensi mesin super cerdas yang bisa jadi menyingkirkan supremasi manusia di planet ini.
Awalnya, Fermi Paradox berasumsi bahwa planet-planet mirip Bumi adalah langka. Namun, fakta membuktikan, sejumlah temuan astronomi telah mengungkapkan adanya ratusan eksoplanet. Hambatan dari sisi jumlah hilang. Jadi Great Filter mungkin bersembunyi di jalur antara planet layak huni dan peradaban yang sedang berkembang .
Jika Kepler-186f ternyata penuh dengan kehidupan cerdas, maka itu akan menjadi berita yang sangat buruk bagi umat manusia. Itu akan mendorong posisi Great Filter ke dalam tahap teknologi perkembangan peradaban. Bencana bisa saja menanti, bagi Bumi atau rekan ekstraterresterial di mana kehidupan alien berada.  
Menurut teori Great Filter, menemukan makhluk di planet lain dalam tata surya akan menunjukkan bahwa munculnya kehidupan bukanlah hal langka. Jika ada dua kehidupan dalam tata surya, maka itu bisa terjadi jutaan di seluruh galaksi. Artinya, Great Filter tidak terjadi dalam kehidupan awal di sebuah planet. Ia mungkin akan datang belakangan.
Jika Great Filter ada di masa depan, untuk kasus Bumi, itu berarti beberapa peristiwa besar yang menanti manusia suatu ketika -- seperti kepunahan --  yang akan mencegah manusia menjelajah ke bagian lain dari galaksi.
"Jadi, berharap saja Kepler-186f kering kerontang dan tak ada kehidupan," kata Andrew Snyder-Beattie dari University of Oxford, seperti Liputan6.com kutip dari SPACE.com.
Dalam kasus Kepler-186f, makhluk cerdas mungkin tak ada di sana. Atmosfernya mungkin terlalu tipis untuk mencegah pembekuan, atau tak ada pasang surut di sana sehingga lingkungannya relatif statis. Bahwa ia kemungkinan tak bisa menopang kehidupan harus dirayakan. Untung saja! Seperti yang pernah diungkap filsuf Nick Bostrom:
"Kesunyian langit malam adalah emas...dalam pencarian kehidupan di luar Bumi, tidak ada berita berarti kabar bagus. Karena itu menjanjikan potensi masa depan bagi umat manusia…"
Dunia Ewok
Tak hanya mencari kehidupan di eksoplanet. Fiksi ilmiah Star Wars ternyata memberi petunjuk penting soal itu. Film yang dirilis kali pertama pada 25 Mei 1977 mengisahkan alien berbulu yang jadi favorit penonton: Ewok -- mamalia berkaki dua mirip Teddy bear, yang tinggal di hutan di bulan bernama Endor.  
Dalam istilah ilmiah, dunia yang jadi rumah Ewok disebut sebagai exomoon atau bulan luar surya yang mengorbit sebuah planet eksoplanet -- planet yang mengorbit sebuah bintang lain selain matahari kita.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa exomoon juga bisa menyediakan lingkungan yang layak huni. Meskipun belum menemukannya, kita memiliki alasan untuk percaya bahwa jumlahnya sangat banyak, lebih banyak dari eksoplanet.
Banyak eksoplanet ditemukan dalam 20 tahun terakhir, yang ukurannya besar mirip Yupiter. Karena ukurannya itu mereka gampang terdeteksi. Meski berada zona habitasi, planet sebesar itu tak mungkin punya zat cair --  salah satu syarat penting kehidupan.
Namun, seperti halnya Yupiter, planet di luar tata surya mungkin punya bulan yang bisa dihuni. Bahkan, satelit Yupiter, Europa diduga memiliki zat cair terkubur di bawah kerak es. Sementara, Enceladus, satelit Saturnus dipastikan memiliki air yang tersembunyi.
Penelitian terbaru oleh Duncan Forgan dan Vergil Yotov dari University of Edinburgh menyoroti berbagai faktor yang dapat membuat exomoon lebih atau kurang layak huni. Salah satunya soal iklim. Secara teoritis para peneliti mengklasifikasikan ‘benjolan’ exomoon sebagai: ‘bisa dihuni’, ‘panas’, ‘bola salju’, atau ‘hanya bisa buat transit’.
“Ini pasti hanya masalah waktu sebelum exomoon pertama ditemukan dan probabilitas untuk menemukan satu, di zona habitasi bintang, cukup tinggi. Kita mungkin tidak menemukan Ewok, tapi exomoon yang menawarkan prospek untuk menopang kehidupan asing, mungkin dijumpai,” kata Andrew Norton seperti dimuat SPACE.com, 26 April 2014.
NASA: Masa Depan Ada di Kedalaman Angkasa Luar
Pada Kamis 15 April 2010, sebuah ikrar diucap Presiden Amerika Serikat Barack Obama: manusia segera mengirim astronot ke asteroid dan Mars.

“Saya berharap dapat menyaksikan mimpi itu terwujud,” kata Obama, di pangkalan pesawat luar angkasa, Kennedy Space Center -- di mana manusia pertama ke Bulan diberangkatkan.
Perjalanan ke asteroid adalah perintis, sebelum mewujudkan mimpi besar -- ekspedisi ke Planet Merah, Mars, yang akan jadi prestasi kolosal yang dicatat sejarah. Sama halnya ketika mengirimkan manusia pertama ke Bulan. “Kita menginginkan lompatan di masa depan. Tidak menapak terus di jalan yang sama” kata Obama.
Obama tak memprediksi kapan mimpi itu bisa terwujud. Tapi, kata dia, pada 2025, AS akan memiliki pesawat luar angkasa baru yang dirancang untuk perjalanan jarak jauh.
Apa yang diucapkan Obama mirip deklarasi Presiden John F Kennedy pada 1961. “Saya percaya bangsa ini akan mewujudkan mimpi, sebelum dekade ini berakhir, mendaratkan manusia ke Bulan dan kembali dengan selamat ke Bumi,” kata Kennedy saat itu.
Pada tahun 1969, mimpi itu terwujud.
Senada dengan mimpi Obama, Kepala NASA, Charles Bolden, menegaskan masa depan eksplorasi ruang angkasa manusia AS adalah di belantara angkasa luar. Ini saatnya kita lepas dari ideologi era-Apollo. Harus ada tujuan yang lebih jauh ketimbang Stasiun Luar Angkasa Internasional atau Bulan.
Salah satu rencana besar NASA adalah menangkap sebuah asteroid dengan robot satelit dan menariknya ke dekat Bulan sehingga astronot dapat menjelajahi batu angkasa itu. Misi tersebut ditargetkan pada 2025. Mars akan menjadi target berikutnya, pada 2030.
"Masa depan manusia ada di ke kedalaman angkasa luar. Ke Mars, untuk mencari jawaban, bagaimana kita bisa melindungi planet ini dari asteroid dan ancaman lain," kata Bolden seperti dimuat SPACE.com, 25 April 2014.
Namun untuk tujuan itu, diperlukan lebih dari sekedar roket dan pesawat ruang angkasa. “Kita harus memiliki infrastruktur di orbit rendah Bumi." Semacam tempat transit.
Kembali ke fakta bahwa alam semesta tak terbatas dan terbatasnya pengetahuan manusia tak ada salahnya kita mengingat apa yang pernah disampaikan Begawan Astronomi, Carl Sagan.
"Sikap kita, keistimewaan kita yang semu, khayalan bahwa kita memiliki tempat penting di alam semesta ini, tidak berarti apapun di hadapan setitik cahaya redup ini. Planet kita hanyalah sebutir debu yang kesepian di alam yang besar dan gelap. Dalam kebingungan kita, di tengah luasnya jagat raya ini, tiada tanda bahwa pertolongan akan datang dari tempat lain untuk menyelamatkan kita dari diri kita sendiri."

Sejarah Masa Lalu Vulkanik di Mars dan Masa Depannya

Penulis: Avivah Yamani
Sejarah Mars mulai diungkap secara perlahan dari pembentukan kawah yang terjadi di permukaan planet tersebut. Dalam perjalanannya, Mars telah berhasil melalui sejumlah babak letusan gunung api yang sangat berat yang terjadi di planet tersebut. Babak yang mengerikan dalam perjalanan Mars ini memuntahkan lava dan air ke permukaan Mars, dan kemudian mengeras membentuk permukaan yang sekarang kita lihat di Mars.
Daedalia Planum. Kredit Gambar : ESA
Hasil analisis yang dilakukan dari foto-foto yang dihasilkan High Resolution Stereo Camera (HRSC) pada Mars Express mengungkap sejarah aktivitas geologi planet merah itu. Penentuan era yang pernah ada di Mars untuk sebagian besar area bisa dilakukan, selain itu kejadian pembentukan permukaan baru juga bisa diketahui. Pembentukan permukaan baru terjadi dari erupsi vulkanik yang menyebarkan lava di sepanjang permukaan planet.Pembentukan ulang permukaan Mars tidak sama dengan di Bumi. Di Bumi prosesnya relatif tetap, sedang Mars mengalami perubahan itu dalam 5 kali aktivitas vulkanik besar-besaran yang mengakibatkan terjadinya kerusakan di planet tersebut. Diperkirakan aktivitas vulkanik tersebut terjadi setelah fasa awal planet yang lebih hangat dan basah, sekitar 3800 juta tahun yang lalu. Dianatara babak tersebut planet Mars relatif lebih tenang.
Kelima aktivitas vulkanik yang terjadi dalam sejarah Mars dimulai 3500 juta tahun lalu kemudian diikuti kejadian berikutnya pada 1500 juta tahun lalu, 400 – 800 juta tahun lalu, 200 juta tahun lalu dan yang terakhir terjadi sekitar 100 juta tahun lalu. Era vulkanik ini ditentukan dari perhitungan jumlah kawah yang terdapat di permukaan Mars. Idenya sederhana, semakin tua permukaan, maka akan semakin banyak kawah yang terakumulasi disitu sebagai akibat tabrakan meteorit berbagai ukuran di sepanjang sejarah Mars.
Kronologis di Mars. Kredit Gambar : ESA
Memang metode tersebut masih diperdebatkan keakuratannya karena bagi beberapa peneliti, kawah-kawah kecil tidak dihasilkan oleh meteorit namun oleh batuan Mars yang terlontar ke permukaan akibat tabrakan tunggal yang besar. Namun hasil pengamatan selama 7 tahun dari foto yang dihasilkan Mars Orbiter Camera (MOC) pada Mars Global Surveyor milik NASA menunjukan kawah baru terjadi terus pada permukaan Mars sepanjang waktu tersebut.Dengan demikian laju rata-rata pembentukan kawah di masa sekarang bisa dikalkulasi dari pengamatan tersebut. Dan ternyata laju tersebut tidak jauh berbeda dari yang dihasilkan pada data Mars Express.
Sepanjang babak vulkanik, lava yang dihasilkan dari letusan mengalir menutupi permukaan Mars. Pemanasan internal yang dihasilkan oleh aktivitas vulkanik juga menyebabkan air meledak keluar sehingga terjadi banjir dalam skala yang besar.
Hasil analisa pemodelan komputer menunjukan Mars saat ini sedang berusaha untuk menyeimbangkan sistem plat tektoniknya. Di Bumi, kerak yang patah akan berubah secara perlahan menjadi plat tektonik yang bergerak. Di Mars, babak letusan gunung api menunjukan kalau kondisi plat tektonik hampir bisa dicapai oleh planet merah tersebut. Karena itu tampaknya fasa letusan gunung api ini belumlah selesai di Mars.
Interior Mars juga menunjukan kalau planet ini belumlah dingin, karena itu letusan gunung api masih akan terjadi lagi. Dengan dmeikian sejarah yang diungkap di Mar oleh Mars Express bukanlah sejarah dari sbeuh planet mati. Bahkan, Mars Express justru memperlihatkan adanya lokasi dengan aktivitas yang maish belum diketahui dan bisa jadi meledak menjadi sesuatu yang spektakuler.

Ketika Mars Masih Biru

Penulis: Ratna Satyaningsih
Saya yakin kalian pasti tahu kalau Bumi bukan satu-satunya planet di Tata Surya; jumlahnya ada delapan planet. Planet yang paling mirip dengan Bumi adalah Mars, yang dijuluki ‘Si Planet Merah’ lantaran permukaannya berwarna merah. Namun, tampaknya Mars di masa lalu berwarna biru, diliputi danau, sungai, dan lautan air, mirip seperti Bumi!
Foto alur air di masa lalu Mars yang diambil Mars Express. Kredit: ESA/DLR/FU Berlin (G. Neukum)
Foto alur air di masa lalu Mars yang diambil Mars Express. Kredit: ESA/DLR/FU Berlin (G. Neukum)
Foto menakjubkan ini diambil oleh wahana antariksa Mars Express, yang mengelilingi Mars. Foto ini memperlihatkan dasar sungai yang berkelok-kelok di permukaan Mars. Diyakini penampakan ini terjadi akibat aliran sungai yang dalam jauh di masa lampau Mars, milyaran tahun sebelum manusia ada.
Saat ini masih ada air di Mars, meskipun dalam keadaan beku di bawah permukaan serta di Kutub Utara dan Selatan (seperti tudung es di Bumi). Jadi, dasar sungai ini mungkin bukan suatu penemuan yang mencengangkan, tapi keren banget lho! Bekas sungai ini panjangnya 1500 km, lebih panjang dari Sungai Rhine yang melintasi Eropa, mulai dari Belanda sampai Swiss. Plus, dalamnya 300 m, jauh lebih dalam daripada dalamnya sungai-sungai di Bumi!
Citra-citra baru dari wahana Mars Express ini memungkinkan kita untuk bisa mengintip masa lalu si planet merah, dan rupanya tidak terlalu berbeda dengan dunia kita saat ini.
Fakta menarik: Para ilmuwan yakin bahwa milyaran tahun lalu di Mars terjadi banjir terdahsyat sepanjang sejarah Tata Surya. Mungkin sekarang sulit untuk dibayangkan, karena Mars yang sekarang terlampau dingin dan atmosfernya pun terlalu tipis untuk
memungkinkan adanya air berwujud cair di permukaannya.

Kamis, 13 November 2014

Tudung Es Mars

Mars Ternyata Lebih Dingin

Mars dingin bukanlah informasi baru. Namun hasil pengamatan Mars Reconnaissance Orbiter milik NASA menunjukkan kalau kerak dan lapisan atas selimut Mars lebih keras dan lebih dingin dari yang diperkirakan semula. Dengan demikian seandainya memang ada air dalam bentuk cairan maka tentunya air itu berada di jauh di bawah permukaan planet. Bahkan seandainya ada organisme hidup di dalam air tersebut, tentunya ia akan berada jauh lebih dalam dari dugaan awal.
Foto tudung es di kutub utara Mars. Kredit gambar :NASA/JPL/Malin Space Science Systems
Selain itu permukaan Mars juga ditemukan tidak melengkung mengikuti akibat beban es kutub utara, sehingga interior planet jadi lebih kaku dari yang diperkirakan sebelumnya. Semua ini bisa diketahui dari foto-foto yang diambil dengan Shallow Radar instrument, yang mengambil citra secara detail dari lapisan es, pasir, dan debu yang ada di kutub utara Mars. Citra tersebut mengungkap lapisan panjang sampai dengan 1000 km.
Saat dilihat sepintas ke bagian dalam es di kutub, Mars Reconnaissance Orbiter berhasil melihat timbunan materi es yang bisa digunakan untuk mengusut sejarah iklim di Mars. Benar-benar sebuah penemuan yang membuka masa lalu Mars. Foto-foto yang diambil radar menunjukan ada pembatas halus yang datar antara tudung es dan kerak batuan Mars. Di Bumi, berat timbunan es seperti itu akan menyebabkan terjadinya keruntuhan permukaan planet. Fakta kalau permukaan Mars tidak bengkok menunjukan kalau lapisan terluarnya sangat kuat, sebagai hasil dari kombbinasi kerak dan selubung teratasnya. Dipastikan keduanya pasti sangat tebal dan dingin.
Peta ketebalan lapisan simpanan di kutub utara Mars yang diukur dengan Shallow Radar instrument milik NASA. Kredit : NASA/JPL-Caltech/University of Rome/SwRI
Litosfer planet memang bagian yang sangat keras. Di Bumi, litosfer merupakan bagian yang patah saat terjadi gempa Bumi. Yang menarik adalah kemampuan radar untuk melihat jauh ke dalam tudung es sehingga bisa menemukan kalau tidak ada lengkungan atau pun patahan litosfer. Penemuan ini memberi pemahaman akan temperatur di dalam Mars untuk pertama kalinya.
Temperatur di bagian terluar planet batuan seperti Mars mengalami peningkatan dengan bertambahny kedalaman sampai ke bagian interiornya. Semakin tebal litosfernya, peningkatan temperatur secara bertahap akan semakin tinggi. Ditemukannya litosfer Mars yang tebal justru secara tak langsung menunjukan ada air yang sedang mengintai jauh di bawah permukaan. Lebih dalam dari yang diperkirakan sebelumnya, dimana temperatur akan jadi sangat hangat. Dan jika ada kehidupan di air maka tentunya ia sedang terkubur saat ini.
citra yang diambil radar mengungkap keberadaan lapisan es, pasir dan debu yang membentuk tudung es di kutub utara Mars. Peta berwarna menunjukan topografi dan kaitan tanah Mars. Kredit : NASA/JPL-Caltech/University of Rome/SwRI
Tidak hanya itu, foto-foto yang diambil juga menunjukan 4 zona lapisan es dan debu yang dipisahkan oleh lapisan tebal es murni. Diperkirakan ini merupakan pola lapisan es bebas yang tebal yang memberi gambaran siklus perubahan iklim di Mars dalam skala waktu sekitar 1 juta tahun. Perubahan iklim seperti itu bisa jadi disebabkan oleh perubahan kemiringan sumbu rotasi planet dan perubahan eksentrisitas orbit di sekeliling Matahari. Hasil pengamatan ini mendukung ide kalau kutub utara lebih aktif secara geologi dan lebih muda sekitar 4 juta tahun.
Tanggal 25 Mei, penjejak Phoenix Mars Lander dijadwalkan akan meneliti bagian kutub utara Mars khususnya untuk menyelidiki sejarah air di Mars.

Dimensi Ruang & Waktu

  
  
               Para ilmuwan, terutama yang beraliran eksperimental, mencibir terhadap gagasan-gagasan adanya lorong waktu dan perjalanan ke masa depan dan masa lampau.
Sebagian yang lain, para teoretisi fisika, mengatakan bahwa hal yang belum bisa dibuktikan secara eksperimental bukan berarti tak mungkin ada. Siapa tahu nanti suatu saat bisa dibuktikan.
Ada seorang teoretisi fisika yang mencoba memahami para eksperimentalis itu. Ia bernama A. Zee. Ia mengakui lebih bahagia bila teori yang dibangunnya bisa dibuktikan di laboratorium. Ia pun memaklumi bila ada fisikawan yang lebih hormat pada teori klasik termodinamika ketimbang teori Relativitas Einstein yang prestisius tapi tak bisa dibuktikan secara empiris. Zee diam-diam menyimpan kejengkelan terhadap koleganya sesama teoretisi fisika yang kerjanya hanya mereka-reka teori baru di kertas, dan membangunnya berdasarkan logika-logika matematika semata. ”Matematikanya tidak salah. Tapi titik pijakannya tidak kukuh, dan asumsi-asumsi yang dipakai tidak jelas,” ujarnya. 
Sebagai teoretisi, Zee sering kena sindiran dari para fisikawan eks-perimental. Suatu ketika ia mengunjungi Universitas California di Berkeley, memberikan ceramah. Dalam kata sambutannya Dr. Gene Commins, ahli fisika eksperimental dari Berkeley mengatakan, ”Kami perlu waktu 20 tahun untuk menerima atau menampik teori yang dibangun oleh Mr. Zee hanya dalam sesiang.” 
Teoretisi fisika kondang dari Amerika itu sangat memahami sindiran telak itu. Ia bisa memaklumi kejengkelan itu. Di kalangan fisikawan eksperimental ada sebuah anekdot. Seseorang menanyakan berapa bidadari bisa menari di ujung sebuah jarum. Jawab seorang fisikawan eksperimental, ”Berikan dulu padaku seorang bidadari, nanti kuhitung berapa bidadari bisa menari di ujung jarum.”
Dalam buku Mysteries of Life and The Universe, yang diterbitkan akhir tahun lalu untuk pengumpulan dana bagi lembaga yang berupaya mencegah kematian bayi, Zee mencoba ”memberikan bidadari” itu kepada para fisikawan eksperimental. Ia memberikan prosedur penelitian untuk hal yang amat populer dalam fiksi ilmiah: soal pembalikan arah waktu. Sebuah teori yang dianggap bisa membuktikan bahwa perjalanan ke masa lampau dan masa depan mungkin dilaksanakan. Zee memang dikenal sebagai pengamat andal dalam soal teori time reversal, teori pembalikan waktu. Teori ini, kata Zee, memang sangat menarik, bahkan bisa menarik perhatian orang-orang awam. ”Dalam kasanah fisika modern, teori ini yang paling mengesankan dan bisa memberikan inspirasi masyarakat luas,” kata Zee. 
Dalam mendiskusikan pembalikan waktu itu Zee mengajak kita memperhatikan soal perangai waktu itu sendiri. Waktu, kata Zee, selama ini hanya diketahui bergerak satu arah: menuju masa depan. Di situ ada panah waktu yang jelas. Para teoretisi fisika percaya bahwa panah waktu bisa menciptakan relativitas dan membuat hukum termodinamika mengalami penyimpangan. Proses penuaan atas jaringan tubuh, dalam pandangan kaum teoretisi, dianggap manifestasi bekerjanya panah waktu atas proses termodinamika. 
Lantas, di lain pihak, ekspansi alam semesta itu dianggap sebagai gerak lain dari panah waktu. Yang jadi pertanyaan Zee, adakah dua jenis panah waktu itu saling berhubungan. Atau pertanyaan yang lebih spesifik lagi, bisakah kita membalikkan arah panah waktu itu. Para fisikawan eksperimental pening kepala mencoba menjawab pertanyaan itu. Soalnya, mereka tak tahu prosedur untuk membuktikannya. Para eksperimentalis memang bekerja bermodalkan prosedur operasional. Dengan itu mereka bisa menjadikan fenomena fisika menjadi teknologi. Dengan prosedur operasional yang mantap, fenomena fisika bisa mudah disaksikan, diukur, dan dimanfaatkan. Kali ini si teoretisi Zee, yang terkenal gara-gara buku fisika populernya yang laris, Fearful Symmetry, menawarkan prosedur operasional yang sederhana untuk membuktikan pembalikan waktu. Sebuah peristiwa fisika dibuat film, lantas film itu diputar mundur ke belakang. 
Kalau ternyata pemutaran mundur itu tak memberikan fenomena yang aneh, berarti tak ada pembelokan terhadap panah waktu. Kalau tak ada pembelokan waktu, itu berarti proses ke depan peristiwa itu sama dengan proses ke belakang. Maka dikatakan di situ ada simetri. Logikanya, dimensi waktu pun bisa menjadi semacam dimensi ruang. Kalau di dalam ruang kita bisa meloncat ke kiri dan ke kanan, mengapa tak mungkin kita meloncat ke masa lampau, lalu ke masa depan? Ia memberikan contoh permainan base ball dalam rekaman. Seorang atlet memukul bola kencang, sampai bola keluar lapangan. 
Ketika video itu diputar secara terbalik, terlihat hal yang aneh: bola meluncur dari luar lapangan dengan laju yang makin lama makin cepat, sebelum akhirnya membentur batang pemukul, dan membuat tangan si atlet terpental ke samping. Kata para eksperimentalis, dalam pemutaran terbalik terjadi fenomena yang menyalahi hukum fisika. Bola yang dilemparkan, karena bergesek dengan molekul-molekul udara, akan bertambah lambat, bukan bertambah cepat. Tapi sebentar, kata Zee. Seandainya gambar di video sangat tajam, pemutaran balik itu tidak menyalahi hukum fisika. Sebab di situ akan terlihat molekul-molekul udara bukannya mengerem bola, tapi mendorong bola itu hingga terjadi percepatan gerak bola.
Ini tentu saja terjadi karena film diputar balik. Dalam pemutaran biasa itu molekul mengerem bola, diputar balik arah rem berbalik menjadi mendorong. Satu nol untuk teoretisi fisika. Nah, untuk lebih ilmiah, eksperimen itu dilanjutkan dengan membahas bagaimana kalau yang diputar balik itu adalah film tentang atom. Kemudian Zee, dalam tulisan panjangnya itu, mengomentari eksperimen di Berkeley tentang fenomena munculnya zarah deuteron dan pion akibat tumbukan dua buah proton. Fenomena subatomik yang telah berumur 42 tahun itu lalu direkam dalam film. 
Untuk perbandingan dibuat pula film yang menggambarkan proses kebalikannya: tumbukan pion dan deuteron yang menghasilkan dua proton. Ajaib, film pertama kalau diputar mundur persis sama dengan film kedua diputar biasa. Dan demikian sebaliknya. Itu berarti, dalam dunia subatomik pun tidak ada penyimpangan atas fenomena panah waktu bila terjadi pembalikan arah waktu. Contoh yang lebih baik datang dari eksperimen tahun 1956 tentang fenomena gerak elektron. 
Tapi sebelum bicara soal ini, Zee mengingatkan pada permainan gasing. Anak-anak tahu bahwa gasing berputar pada sumbunya, sedangkan tepiannya berputar membentuk lingkaran. Zee menyebut fenomena itu dengan istilah khusus: precessing. Bila gerakan gasing itu difilmkan, lalu diputar ke belakang, yang tampak adalah kejadian bahwa gasing itu berputar pada arah yang sebaliknya, demikian pula sumbunya. Kita tahu, arah perputaran gasing itu mengikuti ke mana tali ditarik. 
Dengan kata lain, hukum mengatakan bahwa putaran gasing itu tak berubah ketika waktu diputar balik. Kembali pada soal gerak elektron, yang berputar seperti gasing, dan terus berputar. Di dunia mikroskopis pada level subatomik, zarah semacam elektron bebas dari friksi, dari gangguan. Secara relatif, elektron itu jauh dari zarah lain. Elektron seperti berada di ruang hampa dan tak terpengaruh gravitasi. Ia akan berputar selamanya mengikuti kelembamannya, dengan kecepatan tetap. Yang harus diingat, tulis Zee, adalah kenyataan bahwa medan magnet hanya bisa dibangkitkan oleh gerakan muatan listrik. Muatan yang diam hanya bisa membangkitkan medan listrik, bukan medan magnet. 
Lantas, apakah elektron yang berputar itu terpengaruh oleh panah waktu? Zee mengajak orang melihat ke proyektor. Sebuah film tentang perputaran elektron disajikan, dan kemudian diputar mundur. Di situ tampak, elektron berputar ke arah yang lain. Inikah petunjuk adanya sebuah panah waktu? Dengan memperhatikan arah ke mana elektron berputar bisakah kita mengatakan ke arah mana film itu dimainkan? Tapi tunggu. Medan magnetik sebenarnya juga berjalan ke arah sebaliknya. Muatan yang bergerak sebaliknya membuat medan magnetik bergerak ke arah yang sebaliknya pula dalam film yang diputar mundur. Maka sulit untuk mengatakan bahwa film itu berjalan maju atau mundur. Sebagaimana halnya dengan perputaran gasing, bisa ke arah yang satu dan bisa ke arah yang lain, hanya melihat perputaran itu kita tak bisa tahu apakah film yang merekam perputaran itu diputar biasa atau diputar mundur. 
Satu lagi bukti bahwa elektron pun tak terpengaruh oleh pembalikan waktu. Bagaimana dengan putaran elektron pada medan listrik? Jika fenomena itu dibikin film, lantas kembali diputar mundur, ternyata medan listrik tidak mengikuti pembalikan ini, medan listrik tidak membalik arah. Kenapa? Karena yang ada di situ adalah muatan listrik yang diam tak bergerak. Kecuali bila elektron berputar ke arah lain. Film yang berjalan ke depan pun bakal ke-lihatan lain: medan listrik menunjuk arah yang sama dalam kedua arah putaran film, namun putaran elektron menunjukkan arah yang berbeda. 
Bila itu terjadi, yakni elektron berpusing dalam medan listrik, pengesahannya mesti datang dari laboratorium. Atur perangkat di laboratorium, bangkitkan medan listrik dan masukkan sebiji elektron. ”Kalau Anda bisa melihat elektron itu berputar, bersiaplah terbang ke Stockholm untuk menerima hadiah Nobel. Anda akan terkenal karena menemukan panah waktu dalam hukum dasar fisika,” tutur Zee. 
Profesor Zee sepertinya mau memberi penekanan bahwa ide dasar itu tak bisa disederhanakan. Dengan membalik waktu, medan magnetik membalik arah. Namun medan elektrik tidak demikian. Bila hukum fisika tak berubah di bawah pemutaran waktu, elektron tak mungkin berputar dalam sebuah medan listrik sebaik di medan magnet. Sejauh ini yang dibicarakan adalah elektron. Padahal, untuk kasus pembalikan waktu tak harus dikaitkan degan elektron. Bila demikian maka ada hal khusus yang harus dicatat. Yakni, kata Zee, sebuah partikel yang berputar pada medan listrik akan memiliki yang dinamakan momen sepasang muatan listrik (electric dipole moment). Jika setiap partikel memiliki saat sepasang listrik itu maka pembalikan waktu akan dipengaruhi oleh hukum dasar fisika. 
Serangkaian eksperimen pernah dilakukan guna melihat apakah neutron memiliki saat sepasang muatan listrik itu. Pencarian gejala saat sepasang muatan listrik itu telah berjalan hampir 40 tahun. Kisah pencarian itu telah menggambarkan dengan baik perbedaan antara fisika teori dan eksperimen. Bagi teoretisi begitu mudah: sambil duduk-duduk mereka bisa membayangkan sebuah elektron berputar pada medan elektrik. Ini pekerjaan berat untuk kaum eksperimetalis, karena mereka harus mengobservasi semua gejala secara faktual. Profesor Zee mengakui, untuk eksperimen semacam itu secara teknis sulit. 
Sebuah elektron tak bisa dimasukkan begitu saja ke medan listrik. Sebab medan listrik bakal mendorongnya keluar dari perkakas eksperimen. Hubungan antara teoretisi dan eksperimentalis memang sulit. Zee menggambarkan hubungan itu seperti berikut. Sekelompok orang tekun menghabiskan waktunya menggerayangi rumput kering untuk mencari sebatang jarum. Beberapa orang lain berdiri di pinggir lapangan dan dengan gaya mandor berteriak, ”Ayo, cari dengan lebih serius!” Jawab yang mencari, ”Kami tidak dapat menemukannya! Kami sudah mencari lebih dari 30 tahun! Kalaupun ada, panjangnya pasti lebih dari 10 pangkat minus 27 cm.” Sambil menggaruk kepala, yang dipingir lapangan berteriak: ”Hei, menurut perhitungan di sini jarum itu agak lebih kecil dari 10 pangkat minus 27 cm. Jangan menyerah!” 
Percobaan yang sebenarnya baru bisa diwujudkan pada sebuah atom. Satu atom netral, tentu saja. Jika elektron memiliki satu saat sepasang muatan listrik, atom juga memilikinya. Apa yang membuat pemutaran balik waktu menjadi terasa misterius sebab selama ini hukum-hukum fisika belum mau menghargai soal pembalikan ruang. Setiap kali melihat cermin, orang melihat fenomena pembalikan ruang yang dikenal sebagai parity dalam fisika. Ahli fisika sering melupakan ini. Akhirnya Zee menegaskan pembalikan waktu, bagi para ahli teori fisika, disamakan dengan pembalikan dalam ruang. Dalam ruang simetri bisa terjadi sisi kiri dan kanan, atau antara bayangan di cermin dan benda aslinya. 
Jadi dalam pembalikan waktu pun mestinya terkandung pengertian adanya kesebangunan antara masa lalu dan masa depan. Ingat saja kata Einstein bahwa ruang dan waktu berhubungan erat. Lalu mengapa orang bebas bergerak ke kiri atau ke kanan, namun tak dapat pindah ke masa lalu atau masa depan? Para fisikawan eksperimental sudah menyiapkan jawabannya: hukum fisika mengenal kiri dan kanan, tapi tak tidak mengenal masa lampau dan masa depan. 
Tampaknya ada hal yang mesti diingatkan, hal yang sangat dijauhi oleh para ahli fisika. Yakni soal kesadaran manusia. Bukankah waktu adalah sebuah konsep dalam fisika yang tak mungkin kita bicarakan tanpa menariknya dalam kesadaran kita dalam tingkat tertentu? Jadi, adakah para eksperimentalis bisa membuat mesin waktu setelah berhasil menyingkapkan rahasia momen sepasang muatan listrik? Belum tentu, jawab Zee. Ia lalu berandai-andai. Misalkan di sebuah planet penduduknya tak mengenal air, tak mengenal kaca dan cermin. Tapi para ahli fisika di situ bisa membuktikan bahwa hukum-hukum dasar fisika berubah bila terjadi pembalikan ruang. Tak berarti lalu mereka bisa membuat cermin. Jadi? ”Maaf bila mengecewakan Anda, namun para fisikawan tetap belum bisa menghitung perbedaan antara masa lalu dan masa depan, dan karena itu mereka belum bisa mengirimmu mengarungi dimensi waktu,” kata Zee.

Planet Mars

Mars



Mars adalah planet terdekat keempat dari Matahari. Namanya diambil dari dewa perang Romawi, Mars. Planet ini sering dijuluki sebagai "planet merah" karena tampak dari jauh berwarna kemerah-kemerahan. Ini disebabkan oleh keberadaan besi(III) oksida di permukaan planet Mars.Mars adalah planet bebatuandengan atmosfer yang tipis. Di permukaan Mars terdapat kawah, gunung berapi, lembah, gurun, dan tudung es. Periode rotasi dan siklus musim Mars mirip dengan Bumi. Di Mars berdiri Olympus Mons, gunung tertinggi di Tata Surya, dan Valles Marineris, lembah terbesar di Tata Surya. Selain itu, di belahan utara terdapatcekungan Borealis yang meliputi 40% permukaan Mars
Lingkungan Mars lebih bersahabat bagi kehidupan dibandingkan keadaan Planet Venus. Namun begitu, keadaannya tidak cukup ideal untuk manusia. Suhu udara yang cukup rendah dan tekanan udara yang rendah, ditambah dengan komposisi udara yang sebagian besar karbondioksida, menyebabkan manusia harus menggunakan alat bantu pernapasan jika ingin tinggal di sana. Misi-misi ke planet merah ini, sampai penghujung abad ke-20, belum menemukan jejak kehidupan di sana, meskipun yang amat sederhana.
Planet ini memiliki 2 buah satelit, yaitu Phobos dan Deimos. Planet ini mengorbit selama 687 hari dalam mengelilingi Matahari. Planet ini juga berotasi. Kala rotasinya 25,62 jam.
Di planet Mars, terdapat sebuah kenampakan unik di daerah Cydonia Mensae. Kenampakan ini merupakan sebuah perbukitan yang bila dilihat dari atas nampak sebagai sebuah wajah manusia. Banyak orang yang menganggapnya sebagai sebuah bukti dari peradaban yang telah lama musnah di Mars, walaupun pada masa kini, telah terbukti bahwa kenampakan tersebut hanyalah sebuah kenampakan alam biasa.

Ciri fisik


Mars memiliki jari-jari sekitar setengah dari jari-jari Bumi. Planet ini kurang padat bila dibandingkan dengan Bumi, dan hanya mempunyai sekitar 15% volume dan 11% massa Bumi. Luas permukaannya lebih kecil dari jumlah wilayah kering di Bumi.[5] Mars lebih besar daripadaMerkurius, tetapi Merkurius lebih padat. Akibatnya kedua planet mempunyai tarikan gravitasi yang hampir mirip di permukaan—dan tarikan Mars lebih kuat sekitar kurang dari 1%. Ukuran, massa, dan gravitasi permukaan Mars berada "di antara" Bumi dan Bulan(diameter Bulan hanya setengah dari Mars, sementara Bumi dua kalinya; Bumi sembilan kali lebih besar dari Mars, dan Bulan satu per sembilannya). Kenampakan permukaan Mars yang merah-jingga diakibatkan oleh keberadaan besi(III) oksida, yang lebih dikenal dengan nama hematite
.

Senin, 03 November 2014

Jagad Raya dan Tata Surya

JAGAD RAYA DAN TATA SURYA


1. Jagad Raya

  A. Pengertian Jagad Raya
        Jagad Raya adalah ruang yang maha luas dan tidak ada batasnya tempat benda-benda langit yang berada, termasuk bumi yang merupakan tempat tinggal manusia. Jagad Raya berisi bemilyar-milyar benda langit di antaranya bintang, meteor, planet, satelit dan komet.
  a. Anggapan tentang terjadinya jagad raya dan alam semesta.
       1. Anggapan Heliosentris
          Heliosentriz berasal dari kata helios artinya matahari dan centrum artinya pusat. Jadi anggapan heliosentris bisa di artikan bahwa matahari sebagai pusat jagad raya.
       2. Anggapan Geosentris
          Geosentris berasal dari kata geo artinya bumi dan centrum artinya pusat. Jadi anggapan geosentris artinya bahawa bumi adalah pusat alam semesta..
       3. Anggapan Antroposentris
          Antroposentris berasal dari kata anthropos yang artinya manusia dan centrum artinya pusat. Jadi anggapan antroposentris meruapakan anggapan bahwa manusia sebagai pusat segalanya.
  b. Teori terjadinya jagad raya
      1. The big bang theory ( teori ledakan besar )

JAGAD RAYA dan TATA SURYA

       Teori big bang di dasarkan asumsi bahwa alam semesta berasal dari keadaan yang panas dan mengalami ledakan dahsyat yang akhirnya mengembang. Pendukung teori: Stephen Hawsking.
     2. The steady state theory ( teori keadaan tetap )

JAGAD RAYA dan TATA SURYA


       Teori ini di kemukakan oleh H. Bondi, T. Gold dan F. Hoyle dari Universitas Cambridge pada tahun 1948. Menurut teori ini dikemukakan bahwa alam semesta tidak ada walnya dan tidak ada akhirnya.
    3. Teori jagad raya berayun

JAGAD RAYA dan TATA SURYA

       Teori alam semesta yang berayun merupakan kelanjutan dari teori Deuntuman Besar. Para ahli menemukan bahwa gerak galaksi yang saling menjauh itu menunjukkan tanda-tanda makin melambat.

2. Galaksi
   A. Pengertian Galaksi 
       Galaksi adalah sekumpulan berjuta-juta bintang dan benda-benda ruang angkasa yang menbentuk suatu pulau.Tipe-tipe galaksi berkisar dari galaksi kerdil dengan sepuluh juta bintang hingga galaksi bintang raksasa dengan satu trilliun bintang, semuanya mengorbit pada pusat galaksi. Matahari adalah salah satu bintang di galaksi bima sakti., tata surya termasuk bumi dan semua benda yang mengorbit matahari adalah bagian dari galaksi.
   B. Bentuk-bentuk Galaksi
       1. Bentuk Spiral
           a. Memiliki roda-roda Chaterina dengan lengan-lengan berbentuk spiral, keluar dari pusat yang
      terang.
           b. Berjumlah sekitar 60%.
              Contoh: 

                                                            [ Galaksi Andromeda ]
[ Galaksi Bima Sakti ]

      2. Bentuk Spiral Berbatang
          a. Lengan-lengan spiral galaksi ini keluar dari bagian ujung suatu pusat.
          b. Jumlah sekitar 18 %.

     3. Bentuk Elips
         a. Mulai dari bentuk seperti bola kaki hingga bola rugby.
         b. Jumlah sekitar 18 %.
             Contoh: Ursa Mayor

      4. Bentuk tak beraturan
          a. Tidak mempunyai betuk tertentu.
          b. Berjumlah sekitar 4 %.

3. Tata Surya




   A. Pengertian Tata Surya
         Tata Surya adalah tatanan benda-benda langit berupa matahari dan semua benda langit yang mengelilinginya.
   B. Teori Nebula



         Pertama kali dikemukakan pada tahun 1976 oleh Immanuel Kant dan Pierre Simon de Laplace. Teori ini dikenal sebagai teori nebula atau teori kabut. Menurut mereka tata surya pada awalnya berupa sebuah gumpalan nebula, yaitu awan gas berukuran raksasa, jauh lebih besar dari ukurannya sekarang.
   C. Anggota Tata Surya
        1. Matahari



           Matahari merupakan salah satu bintang jagad raya yang mempunyai fungsi sangat besar bagi kehidupan di bumi.

             Bagian-bagian Matahari
                   a. Fotosfer: Seperti piringan emas berkilauan

                  b. Plages: bagian terang pada piringan matahari
                  c. Filamen: bagian gelap pada matahari
                  d. Prominensa: filamen yaang tampak di tepi proyeksi piringan matahari ke bidang langit
                  e. Sunspot/bintik matahari: bintik-bintik yang relatif gelap dibandingkan dengan rata-rata terang fotosfer.

      2. Planet
         A. Berdasarkan jarak antara matahari planet dibdakan atas:
           1. Planet-planet Dalam
                Planet-planet yang jarak rata-ratanya ke matahari lebih pendek dari jarak rata-rata bumi-matahari dikelompokkan sebagai planet dalam. Termasuk ke dalam kelompok Merkurius dan Mars. Sudut yang disebut Elongasi planet dalam tersebut besarnya berubah-ubah. Karena lintasan planet dalam lebih kecil dari lintasan bumi mengelilingi matahari. maka elongasi planet dalam tidk lebih besar dari 90 derajat. Elongasi umum Merkurius hanya 80 derajat, sedangkan untuk Venus hanya 48 derajat.
          2. Planet-planet Luar
               Planet-planet yang jarak rata-ratanya ke Matahari lebih panjang dibandingkan degan jarak rata-rata bumi-matahari dikelompokkan planet luar. Termasuk planet Mars, Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. Berbeda debgan elongasi planet dalam, elongasi mencapai 180 derajat berarti tercapailah kedudukan eposisi.
         B. Berdasarkan massanya, planet dibedakan menjadi 2:
           1. Planet Superior (bermassa besar) terdiri atas Yupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus.
           2. Planet Inferior (bermassa kecil) terdiri atas Merkurius, Venus, Bumi dan Mars.

  Planet-planet dalam tata surya:
    1. Merkurius



      Merkurius merupakan planet paling dekat dengan matahari, jarak rata-ratanya sekitar 57,8 juta km. Akibatnya suhu udara pada siang hari sangat panas (mencapai  400 oC), sedangkan pada malam hari saat dingin (mencapai -200oC). Merkurius berukuran paling kecil, garis tengahnya hanya 4.850 km, hampir sama dengan ukuran bulan ( diameter 3.476 km). Planet ini beredar mengelilingi matahari dalam suatu orbit eliptis (lonjong) dengan periode revolusinya sekitar 88 hari, sedangkan periode rotasinya sekitar 59 hari.
    2. Venus


       Venus merupakan planet yang letaknya paling dekat dengan bumi, sekitar 42 juta km, sehingga dapat terlihat jelas dari bumi sebagai suatu noktah kecil yang sangat terang dan berkilauan menyerupai bintang pada pagi dan senja hari. Venus sering disebut sebagai bintang kejora.
       Jarak rata-rata venus dengan matahari sekitar 108 juta km, di selubungi atmosfer yang sangat tebal, terdiri atas gas karbon dioksida dan sulfur, sehingga pada suang hari suhunya dapat mencapai 477oC, sedangkan pada malam hari suhunya tetap tinggi, karena panas yang diterimanya tertahan atmosfer. Diameter planet venus sekitar 12.140 km, periode rotasinya sekitar 1.244 hari dengan arah sesuai jarum jam, dan periode revolusinya sekitar 255 hari.
     3. Bumi




        Bumi merupakan salah satu planet yang ada di sistem tata surya kita. Diperkirakan usianya mencapai 4,6 milyar tahun. Jarak planet bumi dengan matahari adalah 149,6 juta kilometer. Bumi mempunyai lapisan udara yang bernama atmosfer dan medan magnet yang disebut magnetosfer yang melindungi permukan bumi dari angin matahari, sinar ultraungu, dan radiasi dari luar angkasa. Lapisan udara ini menyelimuti bumi hingga ketinggian sekitar 700 km. Dan lapisan ini dibagi menjadi troposfer, stratosfer, meseosfer, termosfer dan eksofer.
      Lapisan troposfer merupakan lapisan dekat dengan bumi merupakan tempat terjadinya gejala-gejala di bumi. Lapisan stratosfer merupakan lapisan tempat konsentrasi ozon. Lapisan meseosfer tempat terjadinya meteor. Lapisan termosfer berfungsi memantulkan gelombang radio. Perbedaan suhu di muka bumi adalah -70oC hingga 55oC bergantung pada iklkim setempat.Satu kali rotasi selama 24 jam, sedangkan sekali revolusi selama 365 hari. Bumi mempunyai massa seberat 59.760 milyar ton, dengan luas permukaan 510 juta kilometer persegi. Bumi mempunyai diameter sepanjang 12.756 km. Grafitasi bumi diukur sebagai 10 N kg-1 dijadikan unit ukuran grafitasi planet lain. Bumi mempunyai satelit alami yaitu bulan sekitar 70,8 % permukaan bumi diliputi air. Udara bumi terdiri atas 78% nitrogen, 21% oksigen, dan 1% uap air, karbondioksida, dan gas lain.
     4. Mars


         Mars merupakan planet luar yang paling dekat dengan bumi. Planet ini tampak sngat jelas dari bumi setiap 2 tahun 2 bulan sekali, yaitu pada kedudukan oposisi. Saat itu jaraknya hanya sekitar 56 juta km dari bumi. Keadan mars paling mirip dengan bumi, sehingga memungkinkan terdapatnya kehidupan. Para
astronom paling banyak menghabiskan waktu mempelajari mars daripada planet lain. Jarak rata-rata ke matahari 288 juta km, periode revolusinya sekitar 687 hari, sedangkan untuk periode rotasinya sekitar 24 jam 37 menit. Diameter planet sekitar setengah dari diameter bumi (6.790 km). Planet mars mempunyai dua satelit alam yaitu phobos dan deimos.
    5. Yupiter


        Yupiter merupakan planet terbesar du tata surya, diameternya sekitar 142.600 km, terdiri dari atas materi dengan tingkat kerapatannya rendah, terutama hidrogen dan helium. Jarak rata-rata ke bumi sekitar 778 km, berotasi pada sumbunya dengan sangat cepat yakni sekitar 9 jam 50 menit, sedangkan periode revolusinya sekitar 11,9 tahun. Planet yupiter mempunyai satelit alam yang jumlahnya paling banyak yaitu18 satelit diantaranya beberapa satelit yang ukurannya besar yaitu Ganimedes, Calisto,Galilea, Lo dan Europa.
    6. Saturnus


   
      Saturnus merupakan planet terbesar setelah yupiter, diameternya sekitar 120.200 km, periode rotasinya sekitar 10 jam 14 menit, dan revolusinya sekitar 29,5 tahun. Planet ini mempunyai tiga cincin tipis yang arahnya selalu sejajar dengan ekuatornya, yaitu cincin luar diameternya 273.600 km, cincin tengah 152.000 km, dan cincin dalam 160.000 km. Antara cincin dalam dengan permukaan saturnus dipisahkan oleh ruang kosong yang berjarak sekitar 11.265 km. Planet saturnus mempunyai atmosfer sangat rapat terdiri atas hidrogen, helium, metana dan amoniak. Planet saturnus mempunyai satelit alam berjumlah sekitar 11 satelit, diantaranya Titan, Rhea, Thetys dan Dione.
    7. Uranus


        Uranus mempunyai diameter 49.000 km hampir 4 kali diameter bumi. Periode revolusinya sekitar 84 tahun, sedangkan rotasinya sekitar 10 jam 49 menit. Berbeda dengan planet lainnya, sumbu rotasi pada planet ini searah datangnya sinar matahari. Atmosfer dipenuhi hidrogen, helium dan metana. Di luar batas atmosfer, Planet Uranus memiliki lima satelit yang mengelilinya, yaitu Miranda, Ariel, Umbriel, Titania, dan Oberon. Jarak rata-rata ke matahari sekitar 2.870 km. Planet inipun merupakan planet raksasa yang sebagian besar massanya berupa gas dan bercincin, ketebalan cincinnya hanya sekitar 1 meter terdiri atas partikel-partikel yang sangat redup dan tipis..
    8. Neptunus


        Neptunus merupakan planet superior dengan diameter 50.200 km, letaknya paling jauh dengan matahari. Jarak rata-rata ke matahari sekitar 4.497 juta km. Periode revolusinya sekitar 164,8 tahun, sedangkan periode rotasinya sekitar 15 jam 48 menit. Atmosfer Neptunus di penuhi oleh hidrogen, helium, metana dan amoniak yang amat padat jika dibandingkan Yupiter dan Saturnus. Satelit alam yang mengelilinginya aa dua macam, yaitu Tirton dan Nereid. Planet Saturnus memiliki dua cincin utama dan dua cincin redup di bagian dalam yang mempunyai lebar sekitar 15 km.
    9. Bulan


      Bulan merupakan benda angkasa berbentuk bulat yang beredar mengelilingi bumi dalam satu lintasan garis edar tertentu. Oleh karena itu, bulan disebut sebagai satelit alam bumi (satelit artinya pengikut). Diameternya sekitar 3.476 km atau tiga per empat dimeter bumi, jarak rata-rata ke Bumi sekitar 384.000 km. Periode revolusi bulan terhadap bumi sekitar 27,3 hari atau satu bulan ideris, yaitu peredaran bulan mengelilingi bmi dalam satu lingkaran penuh. Ciri bulan telah menyelesaikan satu lingkaran penuh, apabila posisi bulan terhadap bintang adalah tetap, atau jika dilihat dari bumi posisi bulan telah kembali pada keadaan semula. Bulan merupakan benda angkasa sangat kecil grafitasinya, hanya 1/6 grafitasi bumi, akibatnya bulan tidak mampu mengikat atmosfer. Suhu permukaan bulan pada siang hari 100oC, sedangkan pada malam hari mencapai -150oC.
        3. Asteroid atau Planetoid 
            Asteroid merupakan kumpulan planet-planet kecil yang sebagian besar orbitnya ada di antara Mars dan Yupiter.



          Asteroid pernah di sebut sebagai planet minor atau planetoid, adalah benda berukuran lebih kecil daripada planet, tetapi lebih besar daripada meteorid, asteroid merupakan benda langit yang berada di dalam tata surya kita. Kumpulan planet-planet kecil yang sebagian besar orbitnya ada di antara Mars dan Yupiter (main belt). Pertama kali ditemukan dan terbesar: Ceres,. Adapun asteroid yang lain; Apolio, Icarus, Troya, Toros, Eros, Geografos, dan Alinda.
     4. Meteor dan Meteorid
        Meteor merupakan benda langit yang bergerak menuju bumi, karena gaya tarik bumi benda ini benda ini akan nampak bercahaya dan berpijar sehingga nampak jelas dari bumi yang biasanya disebut sebagai bintang jatuh.


            Penampakan tersebut disebabkan oleh panas yang dihasilkan oleh tekanan pada saat memasuki lapisan meseofer. Jika suatu meteorit tidak habis terbakar dalam perjalanannya di atmosfer dan mencapai bumi, benda tersebut dinamakan meteorit.
       5. Komet tau Bintang Berekor
            Benda angkasa yang diselubungi gas yang bergerak berpindah dengan ekor membelakangi matahari.


          Bgian komet: Kepala komet (tediri dari inti komet dan koma yang membungkusnya) dan ekor komet. Komet terdiri atas pecahan benda angkasa, es, dan gas yang membeku. Komet mengorbit matahari dalam suatu lintasan sangat elips. Strukturnya terdiri atas kepala dan ekor komet. Kepala komet mempunyai diameter lebuh dari 65.000 km, meliputi inti komet dan selubung gas yang disebut koma, sedangkan ekor komet dapat mempunyai panjang sampai ribuan kilometer yang arahnya selalu menjauhu matahari.
   Berdasarkan bentuk dan panjang lintasannya, komet dapat diklasifikasikan menjadi dua :
        1. Komet berekor panjang

           Komet yang garis lintasannya sangat jauh melalui daerah-daerah yang sangat dingin di angkasa, sehingga berkesempatan menyerap gas-gas di daerah yang dilaluinya. Ketika mendekati Matahari, komet tersebut melepaskan gas sehingga membentuk koma dan ekor yang sangat panjang. Contohnya komet Kohoutek yang melintas ke dekat matahari setiap 75.000 tahun sekali dan komet Halley setiap 76 tahun sekali.
                      Komet Halley                                     Komet Kohoutek

         2. Komet berekor pendek
            Komet yang garis lintasannya sangat pendek, sehungga kurang mempunyai kesempatan untuk menyerap gas daerah yang di laluinya. Ketika mendekati matahari komet tersebut melepaskan gas yang sangat sedikit, sehingga hanya membentuk koma dan ekor yang sangat pendek bahkan hampir tak berekor. Contohnya komet Encke yang melintas matahari setiap 3,3 tahun sekali.

                                                                 Komet Encke

    Pada tahun 1705, Edmond Halley memperkirakan bahwa komet terklihat pada tahun 1531, 1607, 1682 dan kembali lagi tahun 1758. Karena hal tersebut maka salah satu dari sekian banyak komet diberikan nama komet Halley. Rata-rata periode munculnya orbit Komet Halley adalah setiap 76-79 tahun sekali. Komet Halley terakhir terlihat pada tahun 1986 yang lalu. Inti atau pusat dari komet Halley diperkirakan kurang lebih 1.024 km. Doperkirakan komet Halley akan nampak lagi tahun 2061. Selain komet Halley terdapat berbagai macam komet lainnya, seperti komet Hyakutake dan komet Hale-Bopp.